
Rencana rehabilitasi bandara di Pulau Panjang, Kabupaten Kepulauan Seribu, terancam dibatalkan, jika tidak ada operator penerbangan yang berminat memanfaatkan bandara tersebut.
Saat ini, bandara di Pulau Panjang itu panjangnya hanya 130 meter. Rencananya, runway atau landasan akan diperpanjang menjadi 1.400 meter, dengan biaya Rp 180 miliar. Dana tersebut sudah disiapkan, namun jika dari hasil studi kelayakan tak memungkinkan direhab, proyek itu bisa saja dibatalkan, Karenanya, Pemprov DKI akan mengadakan studi kelayakan terhadap bandara yang dibangun pada 1990.
Namun, hingga sekarang kondisinya tak terurus. Bandara yang dibangun sejak 1990 di Pulau Panjang, menginjak 1997 tidak lagi dipakai alias mangkrak. Tower pengawas rusak berat, sarana prasarana juga banyak yang tidak lengkap karena dicuri orang. Pemprov DKI Jakarta telah merencanakan untuk memperpanjang lintasan 130 meter dari menjadi 1.400 meter. Bahkan, dana sudah disiapkan sebesar Rp 180 miliar untuk proyek tersebut. Hanya saja, kenyataannya bandara tersebut tetap tidak tersentuh.
"Tentang runway, saya minta kelanjutan itu didasarkan pada suatu feasibility study yang rinci, tegas Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.
Fauzi mengatakan, proyek kelanjutan perpanjangan runway tersebut sangat tergantung pada operator penerbangan dan minat masyarakat untuk berkunjung ke Kepulauan Seribu. Fauzi tidak menginginkan penambahan panjang runway mubazir dan akhirnya kondisi kembali seperti sekarang ini.
"Jangan hanya sekadar dilanjutkan, dan kalau dilanjutkan nggak ada kapal terbang yang mendarat, lama-lama ditumbuhi rumut lagi," kata Gubernur.
Sementara itu, Bupati Kepulauan Seribu Burhanudin mengatakan, keberadaan bandara di Pulau Panjang sangat vital. Menurutnya, bandara tersebut sangat menunjang pengembangan wisata di Kepulauan Seribu. Bahkan, kata dia, sudah banyak investor yang menyatakan minatnya untuk berinvestasi dalam program revitalisasi Pulau Seribu. Tidak hanya itu, para investor tersebut juga menanyakan pengembangan bandara tersebut.
"Para investor yang berkecimpung di industri wisata berulang-ulang menanyakan kapan bandara selesai dibangun dan bisa dioperaikan," katanya.
Burhanuddin mengakui, tidak mudah mengembangkan bandara di Kepulauan Seribu. Dia mengakui, untuk menghidupkan bandara tersebut, telah berusaha menggandeng maskapai penerbangan seperti Merpati Nusantara Airline. Rencana kerja sama tersebut untuk mempromosikan wisata Pulau Seribu ke mata dunia. Menurut Burhanuddin, apabila bandara telah dibuka, dipastikan akses menuju pulau utara Jakarta tersebut semakin terjangkau. "Tidak terkecuali turis asing yang terbang dari negaranya masing-masing, untuk berwisata di Kepulauan Seribu," ujarnya.
Dia menceritakan, tersendatnya revitalisasi pengembangan wisata Kepulauan Seribu lantaran masih sulitnya transportasi. Dia mengungkapkan, kapal yang selama ini melayani dari Jakarta ke Pulau Seribu masih belum memenuhi standar keselamatan penumpang, terutama kapal-kapal yang merapat di Pelabuhan Muara Angke.
Di lain sisi, kapal yang berlabuh di Marina relatif terbatas untuk kalangan tertentu saja. Dia mengakui, sekarang ini tidak seluruh warga bisa menjangkaunya, lantaran mahalnya biaya transportasi. (enjoypulauseribu/puser)