Login Block
Nickname

Password


Lupa Password?

Belum Terdaftar?
Daftar Sekarang!

Main Menu
HomeBeritaForumWeb LinksPollsTentang Kami

Pulau Seribu

Whos Online
 11: Guest (s)
 0: Member (s)
 701: Registered Members

You are Pengunjung.
Register Now.

Last Saw:
roy: 6 Hours 53 Mins Ago
ludi: 10 Hours 21 Mins Ago
anggienaria: 15 Hours 51 Mins Ago
JL: 1 Day 8 Hours 51 Mins Ago





Artikel : Transportasi, Tanggung Jawab Siapa ?
2010/1/19 0:36:38
Ketika pertama datang ke Hong Kong tahun 2004, saya terkejut, karena saya baru tahu kalau Hong Kong merupakan sebuah pulau yang terpisah dengan daratan China. Saya langsung terbayang Pulau seribu. Saya bayangkan, bagaimana jika seandainya pemerintah Jakarta bisa menyulap Pulau seribu menjadi gugusan kota metropolis yang saling tersambung oleh tunnel-tunnel bawah laut atau jembatan-jempatan penghubung seperti di Hong kong.

Tapi saya tahu, saya hanya mimpi. Jangankan seperti Hong Kong, mau mencontoh Batam saja rasanya mustahil. Makanya ketika ada selentingan pemerintah DKI mau mendirikan lapangan terbang di Pulau Panjang untuk mendongkrak jumlah wisatawan ke Pulau seribu, saya tersenyum geli. Buat apa membangun lapangan udara, kalau mau ke tempat wisata lain tetap saja harus pake kapal laut. Memangnya pulau-pulau wisata itu sudah tersambung dengan Pulau Panjang?
Kalau rencana itu benar-benar dilaksanakan, saya kira itu proyek paling mubazir. Tidak ada untungnya bagi penduduk Pulau Seribu. Sangat lucu kalau saya hendak pulang ke Pulau Tidung dengan pesawat lewat Pulau Panjang, tapi dari Pulau Panjang, saya harus naik kapal laut lagi ke Pulau Tidung. Hal yang sama saya kira akan terjadi pada pengunjung pulau Kotok, Pulau Pantara atau pulau-pulau wisata lainnya. Artinya, keberadaan lapangan terbang di pulau itu tidak ada hubungannya dengan efisiensi atau efektifitas kegiatan turis yang berkunjung ke Pulau Serib.  Apalagi untuk warga Pulau seribu.

Jadi, kalau masih ada pihak yang ngotot mau mendirikan lapangan terbang di Pulau Panjang dengan biaya dari APBD atau uang pajak lainnya, kita patut curiga mereka hanya mau membuat proyek penghambur-hamburan uang rakyat. Tapi proyek itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepentingan apalagi kesejahteraan rakyat. Dan saya yakin, para pembuat kebijakan kita di Kebon Sirih tidak bodoh-bodoh amat untuk sekedar tahu hal seperti itu.

Meskipun mustahil meniru kemajuan Hong Kong, tapi saya kira pemerintah bisa belajar banyak dan mencontoh Hong Kong dalam beberapa hal, salah satunya masalah transportasi. Di sekitar Hong Kong ada beberapa pulau-pulau kecil yang tidak bisa disambung lewat tunnel bawah laut ataupun jembatan penghubung. Tetapi transportasi kesana begitu mudahnya dan nyaman.

Saya pernah berkunjung ke Pulau Ceng Chau yang jaraknya lumayan jauh, sekitar satu jam dengan Fery dari Central. Meskipun pulaunya kecil, mungkin sekitar 1/3 Pulau Tidung, tapi transportasi ke pulau itu disediakan dengan cukup oleh pemerintah. Kalau tidak salah setiap setengah jam sekali ada Fery yang diberangkatkan ke pulau itu.

Jika siang, penumpang Fery relative sepi. Maklum, biasanya penumpang banyak menumpuk pada jam masuk kantor dan pulang kantor. Jadi jangan heran jika siang hari pulau ini tampak sepi, karena sebagian besar penduduknya bekerja di Hong kong.

Begitu juga dengan Pulau Discovery Island. Saya sempat berkunjung ke pulau yang sebagian penduduknya adalah kalangan ekspat (pekerja asing) ini bulan Ramadhan yang lalu. Kebetulan ada beberapa orang Indonesia yang tinggal di pulau ini. Mereka ikut suaminya yang bule. Waktu itu saya diajak Ustadz Muhaimin (seorang ustadz di Islamic Union Hong Kong) untuk buka bersama. Transportasi ke tempat ini lebih bagus lagi. Jaraknya kurang lebih sama dengan ke Pulau Ceung Chau.  Tapi Pulau ini termasuk kawasan elit dan mahal. Flat-flatnya pun mewah. Dari pulau ini kita bisa melihat kembang Api yang dinyalakan di Disneyland setiap malamnya.

Transportasi disini bukan hanya mudah, tetapi juga aman dan nyaman. Pemerintah saya kira patut mencontoh bagaimana menyediakan moda transportasi seperti ini. Kalau kita bandingkan jarak Hong Kong ke pulau-pulau itu, rasanya tidak terlalu jauh, tetapi faktor keamanan dan kenyamanan penumpang begitu diperhatikan, sehingga kemungkinan terburuk bisa dihindari.

Kita bisa membandingkan dengan keadaan kapal-kapal transportasi ke pulau-pulau kita yang saya kira masih jauh dari aman dan nyaman. Penumpang yang seenaknya naik ke atap kapal, kurangnya pelampung, dan tidak tersedinya tangga untuk menurunkan penumpang, saya kira sebagian kecil dari problem transpotasi kita yang harus mendapat perhatian serius, jika kita ingin maju dalam segi transportasi. Dan itu perlu keterlibatan pemerintah.

Selama ini bisa dibilang pemerintah lalai dalam masalah ini. Seingat saya sudah satu tahun lebih kapal ASDP yang melayani perjalanan ke Pulau Tidung tidak beroperasi. Ini menunjukkan ketidakpedulian pemerintah DKI dalam menyediakan transportasi yang sudah menjadi kewajibannya. Apakah Pemda memang tidak memiliki dana yang cukup untuk itu, atau ada apa?

Kalau pemerintah memang  tidak mampu menyediakan moda transportasi yang memadai untuk masyarakat Pulau seribu, sudah semestinya pemerintah membantu para pemilik kapal ojek untuk meningkatkan pelayanan mereka kepada masyarakat. Caranya macam-macam. Bisa dengan memberi pelampung, membuatkan dermaga yang memadai dan sebagainya. Jangan sampai usaha swdaya masyarakat yang seperti itu luput dari perhatian pemerintah. Ketika terjadi musibah, pemerintah Cuma bisa menunjuk dan menyalahkan pemilik kapal. Padahal, mestinya pemerintah pun berani bertanggung jawab, karena tidak mampu menyediakan moda transportasi yang lebih aman dan nyaman.(enjoypulauseribu/puser)







Berita lainnya

· Wisata Sejarah Alternatif Pengembagan Wisata Pulau...
· Arti Liburan Bagi Pelajar
· Sea Urchin atau Bulu Babi
· Kepulauan Seribu Jadi Pengembangan Wisata Bahari
· Jalani Bulan Madu dengan Romantis di Pulau Seribu

Printer Friendly Page  Kirim ke teman










- Page Created in 0.05 Seconds -