Login Block
Nickname

Password


Lupa Password?

Belum Terdaftar?
Daftar Sekarang!

Main Menu
HomeBeritaForumWeb LinksPollsTentang Kami

Pulau Seribu

Whos Online
 9: Guest (s)
 0: Member (s)
 701: Registered Members

You are Pengunjung.
Register Now.

Last Saw:
roy: 2 Hours 5 Mins Ago
ludi: 1 Day 1 Hour 39 Mins Ago
anggienaria: 1 Day 21 Hours 55 Mins Ago
JL: 2 Days 14 Hours 55 Mins Ago





Seribu Cerita : Perjalanan Ke Pulau Semak Daun
2010/3/1 4:07:00
jumpDengan semangat membara aku, son, dan agus berjalan menuju MM untuk mencari taxi. Saat itu pukul 06:00 pagi, dan menurut keterangan son perahu ke pulau Pramuka berangkat jam 07:00. Itulah sebabnya kita memilih taxi. Dengan sotoynya Agus menunjukkan jalan lewat sana-lewat sini, dan akhirnya salah jalan, tujuannya adalah pelabuhan muara angke, malah sampai ke muara baru. Dan lagi-lagi dengan ilmu sotoynya kali ini Son mengusulkan menuju pelabuhan marina, ancol untuk naik KL Lumba-lumba.

Sesampainya di ancol, terlihat kapal-kapal pesiar berwarna putih bertebaran, dapat dibayangkan berapa harga sewanya. Setelah bertanya sani-sini ternyata si lumba-lumba tak beroperasi lagi. Nah Loh. Hal ini membuat semangat kami sedikit turun, tetapi karena tak mau malu pulang tanpa hasil, kami tetap mencari pelabuhan muara angke. Kami menuju Grogol dengan busway. Waktu menunjukkan pukul 09:00 dan perut pun berbunyi kelaparan. Kami makan disebuah warung tenda, tampilan tidak meyakinkan, tetapi masakannya enak sekali. Setelah makan, sesuai dengan petunjuk pemilik warung kami pun naik angkot merah menuju Muara Angke.

Yes!!!  Akhirnya sampai di Muara Angke. Dengan bantuan orang akhirnya sampai ke perahu tujuan Pulau Pramuka. Kegembiraan menjadi keraguan saat bertanya pada pemilik kapal, “Pak kapan berangkat?” Jawab si bapak: “Ya kalau penuh berangkat, kalau sepi ya besok?”. Jam demi Jam selama 3 Jam menunggu akhirnya perahu penuh juga. Perahu pun berangkat.

Waktu yang ditempuh menuju pulau Pramuka adalah kurang lebih 2.5 jam, beberapa orang mulai mabuk laut ditengah perjalanan. Untuk mengatasinya minum antimo, atau bawa permen mint dan lihat laut di jendela kapal.

Rencananya kami akan jalan-jalan dahulu di Pulau Pramuka sebelum ke pulau Semak Daun, tetapi karena sudah sore, kami memutuskan langsung ke Pulau Semak Daun (SD). Kebetulan ada ojek antarpulau yang akan kesana. Lama perjalanan ke pulau SD adalah 40 menit.

Perairan di sini sangat jernih, laut terlihat berwarna biru, perairan dekat pantai berwarna biru muda, pasir berwarna putih. Tidak perlu ke luar negeri untuk mencari pantai indah seperti ini. Sangat berlawanan dengan kondisi di laut jakarta yang berwarna coklat dan banyak sampah. Saat sore laut terlihat gemerlap bagai bintang berkedip-kedip akibat pantulan sinar matahari. Beberapa pulau besar sudah penuh dengan rumah-rumah, sedangkan pulau-pulau kecil masih sepi penduduk. Terlihat beberapa perahu berjalan dan pondok-pondok ditengah laut (mungkin tempat mancing).

Sesampainya di pulau semak daun, Agus minta ijin camping pada penjaga pulau. Di Pulau ini ada satu rumah milik penjaga pulau, beliau menjual mie instant dan makanan lain. Juga sudah ada toilet di sini, tetapi airnya asin, jadi kami sarankan bawalah air tawar yang banyak untuk minum, masak dan wudhu. Ada beberapa orang yang sudah mendirikan tenda, aku melihat  sudah ada 5 tenda. Kami pun mencari tempat untuk camping menyusuri pantai. Kami memutuskan camping dekat pantai dimana dapat melihat sunset.

Setelah mendirikan tenda yang baru saya beli itu, kami makan nasi bungkus yang tadi dibeli di Pulau Panggang saat ojek antar pulau mampir ke pulau itu. Sunset pun tiba, sayang agak berawan di bagian horison. Orang-orang pun berduyun-duyun ke pantai kami itu.

Matahari pun terbenam, Agus dan Son menjalankan sholat maghrib. Di dalam tenda sangat panas, aku pergi duduk di dekat pantai. Semilir angin berhembus nikmat. Setelah Agus dan Son selsesai sholat kami menggelar matras di pantai, tidur-tiduran melihat indahnya bintang sambil minum engergen coklat hangat. Beberapa bintang jatuh terlihat di langit yang cerah itu, suatu hal yang tak dapat dilihat di kota yang penuh dengan polusi cahaya dan asap. Sambil menikmati langit kami berbincang-bincang tentang repelita masing-masing. Agus berbicara dia ingin jadi presiden dalam lima tahun, tapi sebenarnya dia “terpenjara” dalam kondisi nyaman saat ini. Son bercerita keinginan dia untuk membuka usaha sandang. Sedangkan aku ingin jadi petani. Kemudian kami membicarakan tentang perlukah uang didunia – suatu perdebatan yang tak pernah selesai.

Setelah cukup malam, kami pindah ke tenda. Sambil makan kacang atom, kami membicarakan hal-hal tak bermutu, sampai tiba-tiba muncul dua mahluk kecil memakan kacang atom yang jatuh. Ternyata mahluk itu adalah kecoa. Kecoa ini bersih, mirip kecoa madagaskar mini, tidak jorok seperti di kota. Kami pun cuek saja. Kemudian Agus dan Son memutuskan tidur, dan aku tidur-tiduran di pantai. Dan ternyata di tenda ada kecoak yang bersembunyi, mereka berdua kalang kabut mencari kecoak itu. Hahahaha.. Setelah ngantuk, aku pun bergabung dengan mereka.

Pagi harinya kami pun langsung mencari spot sunrise. Pantai terlihat lebih luas karena air surut. Matahari terhalang oleh awan di horison, sehingga kami harus menunggu beberapa saat untuk melihat sunrise kesiangan itu. Setelah puas menikmati sunrise kami berputar mengelilingi pulau yang hanya ditempuh dalam 10 menit saja.

Akhirnya jam 10 kami dijemput oleh ojek yang sama dimana kami sudah pesan. Kami pun sampai di Pulau Pramuka kembali. Kami pergi mengelilingi pulau Pramuka ini dengan berjalan kaki. Waktu yang diperlukan adalah 40 menit saja. Di sini kami dapat melihat beberapa penginapan, penangkaran ikan, penangkaran kura-kura, tempat persewaan snorkling dan diving, rumah-rumah penduduk, dan juga sisi yang masih belum ditinggali penduduk.

Berkeliling membuat kami lapar dan berkeringat, kami pun mencari warung makan. Warung yang kami pilih cukup ramai, meskipun menunya sedikit. Seperti yang sudah saya bayangkan, orang-orang tak bisa antri, jadi kami harus aktif. Di sini bukan restoran jadi jangan harap dan jangan kecewa terhadap pelayanannya. Jika ada yang mau investasi silahkan bikin restoran di sini, dijamin laris manis.

Kami pergi ke masjid untuk mandi, tetapi airnya tidak mengalir sama sekali. Kami kembali ke warung tadi dan numpang toilet umum, tetapi airnya juga tidak mengalir. Agus membeli aqua lagi untuk wudhu. Saat adzan dhuhur terdengar kami pergi ke masjid yang tadi. Terlihat air sudah berkucur, tampaknya air dibuka saat-saat sholat untuk wudhu saja. Tapi sayang sekali airnya asin. Kami tidak jadi mandi.

Pukul 01.00 kami pergi ke dermaga untuk pulang ke Muara Angke. Terlihat dermaga penuh dengan banyak orang. Berbeda dengan waktu berangkat dimana kami membayar perahu waktu on board, disini kami harus membeli tiket terlebih dahulu. Harga tiket sama. Agus yang pasif lama sekali dapat tiketnya walaupun sudah berdiri didepan tukang jual tiketnya. Rupanya Agus lupa bahwa orang tidak bisa antri dan menganut prinsip siapa cepat dia dapat.

Perahu pertama pun datang. Orang-orang mulai berebut naik sampai-sampai perahu miring. Petugas berkata bahwa akan ada tiga perahu jadi jangan berebut. Tetapi dasar orang-orang yang  egois dan tidak bisa antri, tetap saja ingin naik. Sampai petugas teriak-teriak baru mereka mengerti.

Perahu kedua pun tiba, orang-orang masih berebut naik. Setelah perahu jalan, di dermaga sudah tidak banyak orang. Perahu ketiga agak lama datangnya. Tapi lebih nyaman karena bisa cari posisi PW. Memang orang sabar dikasihi Tuhan. Mesin sempat mati waktu perjalanan tapi puji syukur bisa diatasi dengan cepat. Kami pun tiba di Muara Angke, mampir makan otak-otak (ikan bakar dalam daun dengan bumbu kacang), kemudian pulang.

Waktu bekerja anda menjual hidup anda pada bos anda dengan gaji tiap bulan

Jangan jual semua hidup anda!

Posted by: erugren

Pantai

Pantai

Dermaga Semak Daun

Dermaga Semak Daun








Berita lainnya

· Main Air dan Pasir di Kepulauan Seribu
· Pulau Semak Daun dan Pulau Air di Kepulauan Seribu
· Pulau Air, Diving dan Terusan Penyu di Kepulauan ...
· Pulau Tidung Masih Harus Berbenah
· Bermain di Kepulauan Seribu

Printer Friendly Page  Kirim ke teman

Rojali Re: Perjalanan Ke Pulau Semak Daun

Home away from home


Bergabung: 2008/5/12
Kiriman: 274
From: Jakarta


Moga perjalanan Anda akan ada hikmahnya di kemudian hari dan menjadi Seribu Cerita dari Kepulauan Seribu.

Niscaya pengalaman'y akan menjadi pembelajaran bagi kita semua yang ingin menjelajah Kepulauan Seribu dengan niat yg tulus.

--
puterapulauseribu
»2010/3/1 18:14 Profile Visit Website










- Page Created in 0.06 Seconds -