
Aku balik lagi ke Kepulauan Seribu setelah dua tahun berlalu. Kali ini aku masih tetap bermain bersama teman-teman Bangka. Ada berbagai perubahan yang terjadi pada petualanganku di Kepulauan Seribu ini. Perubahan pertama adalah pada saat kami berangkat ke Kepulauan Seribu. Kami tidak lagi pergi dari Marina, Ancol tapi dari Muara Angke. Kapal murah tidak lagi beroperasi di Marina. Harga yang ditawarkan oleh kapal yang beroperasi di Marina adalah Rp 180 ribu. Sedangkan harga yang ditawarkan oleh kapal di Muara Angke adalah Rp 30 ribu. Tentu saja dalam hal ini harga menentukan kualitas. Kapal Muara Angke membutuhkan waktu dua jam setengah untuk sampai di Pulau Pramuka. Kapal Marina hanya membutuhkan waktu satu jam untuk sampai di Pulau Pramuka. Faktor kenyamanan juga dimenangkan oleh kapal Marina.
Kami menginap di mess Taman Nasional Kepulauan Seribu. Harganya Rp 300 ribu semalam. Kami berjumlah delapan orang. Jadi hitung-hitung biaya menginap di mess itu murah. Mess itu memiliki satu kamar tidur, satu kamar tamu, satu kamar makan dan satu toilet. Tapi mess itu memiliki banyak kasur. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya perempuan tidur di dalam kamar tidur, pria tidur di dalam kamar tamu.
Satu hal yang tidak berubah adalah Pak Satibi. Aku mensyukuri hal ini. Dia adalah PNS yang bertugas mengawasi Taman Nasional Kepulauan Seribu. Dia juga adalah pengurus mess tempat kami menginap. Pada hari kedua dia menjadi pemandu wisata kami. Dia adalah orang asli Kepulauan Seribu (kalau tidak salah). Maksud dari orang asli adalah dia lahir di situ, menghabiskan masa kecil di situ, dan bekerja di situ. Dia adalah pria pecinta laut yang ramah dan menyenangkan.
Kami menghabiskan hari pertama dengan mengunjungi tiga tempat, yaitu Pulau Air, Pulau Sekati, dan Kerambah. Tidak ada acara cebur-ceburan. Kami mengumbar nafsu narsisme dengan berfoto-foto di setiap tempat. Kami bersantai, menikmati angin laut. Kami mengistirahatkan mata dengan melayangkan pandang ke laut yang biru. Kami membiarkan pasir memanjakan kaki telanjang kami. Kami mendengar cerita tentang pulau dari pemandu wisata kami. Kami memberi makan ikan bandeng. Kami melupakan kekejaman hidup untuk sementara.
Di hari kedua barulah kami bercebur-cebur ria. Kami snorkling di laut dekat dengan Pulau Semak Daun. Pemandangannya kurang bagus. Lalu kami makan siang di Pulau Semak Daun. Setelah itu kami snorkling lagi di belakang Pulau Panggang. Nah, di sini tempatnya menawarkan pemandangan lebih bagus. Ikan-ikannya berwarna-warni. Terumbu karangnya membuatku berdecak kagum.
Kami tidak pergi ke mana-mana pada hari ketiga karena kapal yang akan mengangkut kami ke Jakarta berangkat jam satu siang. Sementara itu kami terlalu malas pergi jalan-jalan di tempat lain pada pagi hari. Kami lebih suka menghabiskan pagi hari dengan bermalas-malasan di kasur.
Kepulauan Seribu memang indah. Aku tidak akan mengingkari hal itu. Tapi tentu saja ada hal lain yang membuat petualanganku lebih indah di Kepulauan Seribu. Hal itu tentu saja adalah teman-temanku yang menemaniku bertualang. Kami saling bercerita, bercanda, melontarkan sindiran dan humor sinis. Kami bermain kartu di mess kami pada pagi, sore dan malam hari. Kami makan bersama seperti keluarga besar. Kami bertualang ke pulau-pulau seperti Lima Sekawan (novel terkenal dari Enyd Blyton), cuma bedanya adalah kami berdelapan orang.
Sebenarnya beberapa minggu sebelum hari H, aku tidak berniat untuk menginap di mess Taman Nasional Kepulauan Seribu. Malah aku berminat untuk menginap di vila delima. Tapi pada saat aku memesan kamar, semua kamar pada akhir pekan bulan Agustus sudah penuh. Vila Delima memang harganya lebih mahal daripada mess TNKS tapi lebih nyaman dan sedikit lebih mewah. Tapi kalau dipikir-pikir ada untungnya juga kami menginap di mess karena dengan begitu kekerabatan kami lebih kuat. Kami bisa bercanda sampai tengah malam dan pada saat bangun pagi. Bandingkan jika kami menginap di vila Delima yang kamarnya maksimal cuma bisa menampung 4 orang. Berarti kami terpaksa dibagi menjadi dua kelompok. Berarti ada jarak di antara kami.

Di Pulau Air.

Di Kerambah.

Di dermaga Pulau Pramuka, bersiap-siap untuk snorkling.

Jagoan kita, sesaat sebelum terjun ke laut.

Dari kiri ke kanan: Melinda Tjandra, Doddy Indrajaya, jagoan kita, Pak Satibi, Heike Chandra, Hanny, Yuri Martin, Devita, Handra.
Sumber /Pengirim : vajrasky